Sabtu, 19 November 2016

Masuknya Islam Ke Pulau Jawa

Sejarah Masuknya Islam Ke Tanah Jawa

   Jauh sebelum Islam masuk ke daerah tanah Jawa, mayoritas masyasarakat di tanah jawa menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Selain menganut kepercayaan tersebut masyarakat Jawa juga sudah dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Hindu dan Budha yang berasal dari India. Seiring dengan waktu berjalan tidak lama kemudian Islam mulai masuk ke Jawa melewati Gujarat dan Persia dan ada yang berpendapat langsung dibawa oleh orang Arab, terutama pedagang dari timur tengah.
Kedatangan Islam di Jawa dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan kubur bernama Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahim. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Bagaimanakah proses Islam masuk ke tanah Jawa?, Bagaimana masyarakat Jawa sebelum Islam datang?, Bagaimana peran Wali Songo dan metode pendekatannya?, Dan bagaimana Islam di Jawa paska Wali Songo? Dengan tujuan untuk mengetahui keadaan masyarakat Jawa sebelum Islam datang, peran Wali Songo di tanah Jawa dan metode pendekatannya, serta keadaan Islam di Jawa paska Wali Songo.

Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Maulana Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno, Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.1. Masyarakat Jawa Sebelum Islam Datang

a. Jawa Pra Hindu-Budha
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme. Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat.

Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

b. Jawa Masa Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa bersifat ekspansif, sedangkan budaya Jawa yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme setelah melalui proses akulturasi tidak saja berpengaruh pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem agama.

Sejak awal, budaya Jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan Jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat).

Ciri lain dari budaya Jawa pada saat itu adalah sangat bersifat teokratis. Pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu buktinya. Dalam hal ini Onghokham menyatakan:

Dalam kerajaan tradisional, agama dijadikan sebagai bentuk legitimasi. Pada jaman Hindu-Budha diperkenalkan konsep dewa-raja atau raja titising dewa. Ini berarti bahwa rakyat harus tunduk pada kedudukan raja untuk mencapai keselamatan dunia akhirat. Agama diintegrasikan ke dalam kepentingan kerajaan/kekuasaan. Kebudayaan berkisar pada raja, tahta dan keraton. Raja dan kehidupan keraton adalah puncak peradaban pada masa itu.

Di pulau Jawa terdapat tiga buah kerajaan masa Hindu Budha, kerajaan-kerajaan itu adalah Taruma, Ho-Ling, dan Kanjuruhan. Di dalam perekonomian dan industri salah satu aktivitas masyarakat adalah bertani dan berdagang dalam proses integrasi bangsa. Dari aspek lain karya seni dan satra juga telah berkembang pesat antara lain seni musik, seni tari, wayang, lawak, dan tari topeng. Semua itu sebagian besar terdokumentasikan pada pahatan-pahatan relief dan candi-candi.

2. Peranan Wali Songo dan Metode Pendekatannya
Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa peranan Wali Songo sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.

Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
  2. Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
  3. Sunan Drajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
  4. Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.
  5. Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
  6. Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di Jawa dan luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
  7. Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
  8. Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
  9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.
Salah satu cara penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Wali tersebut ialah dengan cara mendakwah. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat (sebagai objek dakwah), dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

3. Islam Di Jawa Paska Wali Songo
Setelah para Wali menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa, kepercayaan animisme dan dinamisme serta budaya Hindu-Budha sedikit demi sedikit berubah atau termasuki oleh nilai-nilai Islam. Hal ini membuat masyarakat kagum atas nilai-nilai Islam yang begitu besar manfa’atnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran Islam. Dari sini derajat orang-orang miskin mulai terangkat yang pada awalnya tertindas oleh para penguasa kerajaan. Islam sangat berkembang luas sampai ke pelosok desa setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya. Salah satu generasi yang meneruskan perjuangan para Wali sampai Islam tersebar ke pelosok desa adalah Jaka Tingkir. Islam di Jawa yang paling menonjol setelah perjuangan para Wali songo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu diantaranya adalah tradisi Wayang Kulit.

Referensi :
http://pandri-16.blogspot.co.id/2012/09/sejarah-awal-agama-islam-masuk-ke-tanah.html

Sekian dari saya, jika ada kata-kata yg salah mohon dimaklumi sob, namanya aja manusia tidak luput dari kesalahan. Wassalam.

Senin, 29 Februari 2016

Sejarah Awalnya Masuknya Islam di Aceh

                      Sejarah Masuknya Islam

Di Nanggroe Aceh Darussalam

   
     Tahukah anda Nanggroe Aceh Darussalam adalah daerah Pertama kali awal masuknya agama ISLAM di Indonesia?


   Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara. Teori pertama diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.

Teori kedua, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai. 
Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.
Peta Nanggroe Aceh Darussalam
                                                                    










Perkembangan awal Islam di Aceh  

  Islam terus berkembang di Perlak dan perkembangannya yang luas itu lahir dengan jelas di abad XIII M. melebihi dari daerah-daerah lain di Sumatra. Hakikat ini dilihat dan diakui oleh Marco Polo, seorang pengembara Itali yang tiba di Sumatera dalam tahun 1292 M, yang berkata bahwa dimasa itu Sumatra terbagi dalam delapan buah kerajaan yang semuanya menyembah berhala kecuali sebuah saja yaitu Perlak berpegang dengan  Islam karena menurut dia : Perlak selalu didatangi oleh saudagar-saudagar Saracen (muslim) yang membawa penduduk Bandara ini memeluk undang-undang Muhammad. Perkataan Marco Polo menunjukkan bahwa Perlak d iabad ke XIII M, itu sebuah pusat perniagaan yang maju di Nusantara yang menjadi tumpuan saudagar-saudagar muslim baik orang-orang Arab maupun Parsi, telah menjadi Perlak sebagia sebuah pusat penyiaran Islam di Nusantara. Kerajaan Islam Perlak terus merupakan sebuah kerajaan tersendiri merdeka sehingga ia digabungkan ke dalam  kerajaan Islam Samudra Pase di zaman pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Dzahir (688-1254 H = 1289-1326 M).
Kerajaan Samudra Pase mulai berdiri dalam tahun 433 H/1042 M, ketika Meurah Khair dilantik menjadi raja dengan gelaran : Maharaja Mahmud Syah, dan memerintah hingga tahun 470 H/1078 M. Setelah itu kerajaan Samudra di perintah oleh bebarapa orang raja yaitu, 1. Maharaja Mansur Syah (470-527 H/1078-1133 M), 2. Maharaja Ghiyasyuddin Syah (cucu Meurah Khair) (527-550 H/1133-1155 H),    3. Maharaja Nuruddin (Meurah Noe) atau Teungku Samudra yang lebih dikenal dengan “Sultan Al-Kamil” (550-607 H/1155-1210 M).
Perkembangan Dakwah Islamiah di Perlak dan Samudra Pase di abad ke 13 M, sebagaimana yang telah disebutkan dahulu, telah menarik kegemaran banyak ahli-ahli tasawuf terutama sekali dari orang-orang Parsi untuk datang ke Nusantara untuk memesatkan lagi perkembangan dakwah Islamiah di kawasan ini. Diantara mereka ialah Jihan Syah yang datang dari pesisir Malabar (pantai India Barat) ke Aceh tahun 1204 M/601 H.
Jihan Syah bergelar “Seri Paduka Sultan” yaitu perkataan yang bercampur dari bahasa sangsekerta dengan bahasa Arab. Jihan Syah ini boleh jadi orang Parsi atau orang India keturunan Parsi sebagaimana boleh dipahami dari namanya. Beliau ialah Sultan yang mula pertama membangunkan kerajaan Islam di Pantai Aceh Tiga Segi yang dinamakan “Aceh Besar” dan pusat pemerintahannya di Ramni yang sekarang Kampong Pandee. Dinasti Jihan Syah memerintah Aceh selama lebih kurang dua abad (1205-1408).
   Kelahiran kerajaan Islam Aceh di abad 13 M itu telah menambah lagi kecerdasan perkembangan dakwah islamiah di Nusantara; akan tetapi sejarah tidaklah mencatat demikian jelas sejauh manakah peranan Aceh di dalam perkembangan dakwah islamiah, walau bagaimanapun satu dokumentasi tua telah dijumpai di Aceh yang dapat mengambarkan kepada kita bagaimana peran Aceh di dalam dakwah islamiah di Nusantara. Dokumentasi itu berbentuk satu peta dakwah dikepulauan Nusantara.
Peta tersebut menunjukkan bahwa sekumpulan pendakwah yang diketuai oleh Abdullah Al-Malikulmubin berpusat di Aceh telah dibagi-bagikan daerah untuk berdakwah kekawasan-kawasan yang ditentukan, seperti ; Al-Said Syekh Ahmad Attawawi: Kedah ke Semenanjung tanah Malayu. Al-Said Syekh Muhammad Said ke Campa. Al-Said Syekh Muhammad ke Minangkabau Al-Said Muhammad Daud: Petani Utara Semenanjung Tanah Malayu. Al-Said Syekh Abdul Wahab ke Kedah.
Abdullah al-Malikulmubin memilih Aceh sebagai tempat kegiatannya, karena dalam pandanganya bahwa Aceh di masa itu merupakan tempat yang sangat sesuai dijadikan pusat gerakan dakwah islamiah bagi nusantara khususnya dan Asia Tenggara umumnya disebabkan kedudukannya sebagai sebuah pusat perniagaan yang penting di daerah ini.
Demikian juga dakwah islam semakin gencar baik ke dalam sendiri ke pelosok-pelosok Aceh maupun ke luar Aceh. Pelaksanaan ajaraan islam bukan hanya dalam bidang amar ma’ruf tetapi juga dalam nahi munkar. Karena itu di Aceh telah dikenal pengadilan yang berdasarkan agama. Di masa jayanya Kerajaan Aceh, kekuasaan dipegang oleh Kadli Malikul Adil. Pengadilan ini mulai ditingkat pusat kerajaan sampai ke mukim-mukim di mana Uleebalang sebagai pimpinan daerahnya.
   Demikianlah agama islam telah menjadi peraturan hidup umat di Aceh ketika itu sehingga tidak heran dikemudian hari selanjutnya islam itu telah menjadi   way of life nya masyarakat Aceh. Itu pula yang menyebabkan kemudian orang Aceh mau berjuang mati-matian mempertahankan Aceh dari serangan Belanda. Karena menurut orang Aceh, Aceh sama dengan islam. Memerangi Aceh sama dengan memerangi islam. Para ulama bersama dengan pengikutnya menganggap perang tersebut perang sabil, perang suci, jika mereka menang berarti menang islam dan jika mereka gugur mereka mati syahid akan diberi imbalan syurga Jannatun Na’im.
     
       
"Inilah peta jalur masuknya Islam ke Indonesia"


Inilah Tokoh-Tokoh Para Penyebar Agama Islam 
Di Serambi Makkah :

A. Sultan Malik Al-Saleh


   Sultan Malik Al-Saleh adalah pendiri dan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai. Sebelum menjadi rajabeliau bergelar Meurah Silue atau Merah Selu. Beliau adalah putera Meurah Gajah. Diceritakan Meurah Selu mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya, beliau berhasil diangkat menjadi raja di suatu daerah, yaitu Samudra Pasai. Meurah Selu masuk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail, seorang Syarif Mekah. Setelah masuk Islam, Meurah Selu diberi gelar Sultan Malik Al-Saleh atau Sultan Malikus Saleh. Sultan Malik Al-Saleh wafat pada tahun 1297 M.

B. Sultan Ahmad

   Sultan Ahmad adalah sultan Samudera Pasai yang ketiga. Beliau bergelar Sultan Malik Al-Tahir II. Pada masa pemerintahan beliau, Samudera Pasai dikunjungi oleh seorang ulama Maroko, yaitu Ibnu Battutah. Ulama ini mendapat tugas dari Sultan Delhi, India untuk berkunjung ke Cina. Dalam perjalanan ke Cina Ibnu Battutah singgah di Samudera Pasai. Ibnu Battutah menceritakan bahwa Sultan Ahmad sangat memperhatikan perkembangan Islam. Sultan Ahmad selalu berusaha menyebarkan Islam ke wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Samudera Pasai. Beliau juga memperhatikan kemajuan kerajaannya. Beliau menjadi sultan samudera pasai pda tahun 1326-1348.

C. Sultan Alauddin Riyat Syah


    Sultan Alauddin Riyat Syah adalah sultan Aceh ketiga. Beliau memerintah tahun 1538-1571. Sultan Alauddin Riyat Syah meletakan dasar-dasar kebesaran Kesultanan Aceh. Untuk menghadapi ancaman Portugis, beliau menjalin kerja sama dengan Kerajaan Turki Usmani dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Dengan bantuan Kerajaan Turki Usmani, Aceh dapat membangun angkatan perang yang baik. Sultan Alauddin Riyat Syah mendatangkan ulama-ulama dari India dan Persia. Ulama-ulama tersebut mengajarkan agama Islam di Kesultanan Aceh. Selain itu, beliau juga mengirim pendakwah-pendakwah masuk ke pedalaman Sumatera, mendirikan pusat Islam di Ulakan, dan membawa ajaran Islam ke Minang Kabau dan Indrapura. Sultan Alauddin Riyat Syah wafat pada tanggal 28 September 1571.

D.Sultan Iskandar Muda

   
  
     Sultan Iskandar Muda adalah sultan Aceh yang ke-12. Beliau memerintah tahun 1606-1637. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Aceh mengalami puncak kemakmuran dan kejayaan. Aceh memperluas wilayahnya ke selatan dan memperoleh kemajuan ekonomi melalui perdagangan di pesisir Sumatera Barat sampai Indrapura. Aceh meneruskan perlawanan terhadap Portugis dan Johor untuk merebut Selat Malaka. Sultan Iskandar Muda menaruh perhatian dalam bidang agama. Beliau mendirikan sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Baiturrahman. Beliau juga mendirikan pusat pendidikan Islam atau dayah. Pada masa inilah, di Aceh hidup seorang ulama yang sangat terkenal, yaitu Hamzah Fansuri. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, disusun sistem perundang-undangan yang disebut Adat Mahkota Alam. Sultan Iskandar Muda juga menerapkan hukum Islam dengan tegas. Bahkan beliau menghukum rajam puteranya sendiri. Ketika dicegah melakukan hal tersebut, beliau mengatakan, “Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana lagi akan dicari keadilan.” Setelah beliau wafat, Aceh mengalami kemunduran.
Itulah Tokoh-Tokoh Islam Di Aceh, Yang memperjuangkan jiwa raganya untuk menyebarkan agama kita tercinta yaitu agama Islam.

      Sekian dari saya Haris Maulana Dira, Jika ada salah dalam penulisan mohon dimaklumi, lebih dan kurang saya mohon maaf. Ass. Wr, Wb.